Sunday, July 13, 2014

Alternatif Kegiatan Orientasi: Mengenang Masa Lalu dan Menyelamatkan (Generasi) Masa Depan

Di umur saya yang menjelang 20-an akhir, saya udah berkali-kali ngadepin orientasi. Sejak SMP, SMA, S1, S2, bahkan masuk kerja pun ada orientasi. Orientasi ini (MOS maupun OSPEK), bentuknya macem-macem. Dari yang mengucir rambut sedemikian rupa, pakai atribut / co-card aneh dan norak, disuruh bawa aneka benda hasil teka-teki, atau sekedar outbond. 

Saya ingat dulu waktu orientasi ekskul Paskibra jaman SMP. Kami mesti mengucir rambut sebanyak 17 kuciran, dengan pita millenium. Millenium identik dengan pernak pernik futuristik dan warna silver. Jadilah kami semua memakai pita silver. Ternyata salah! Maksud senior itu pita warna apa aja tapi ditulisin MILENIUM MILENIUM MILENIUM gitu. Ya anak 13 tahun dimarahin seniornya, dibentak-bentak gara2 salah pita ya mau gimana si? Diem aja kita.
Waktu SMA, saya ingat masa pelatihan kepemimpinan OSIS. Ada satu hal yang masih saya inget sampai sekarang... makan adat. Menunya adalah sandwich spesial: roti tawar, 'selai'-nya adalah roti marie regal yg dihancurkan dicampur air dan jackpotnya adalah.. pare rebus. Iyep. Pare rebus. >_<


Got this from google. Coba kalau ini adek kita apa tega tho?
(Dear mas2 yg di foto ini, maap saya item2in, bukan karena masnya nggak ganteng, tapi saya gak tega kalo ga saya itemin)

Nah.. Malam ini, saya diBBM saya adik bungsu saya. Besok pagi adalah hari pertamanya masuk SMA dan dia akan mengikuti kegiatan MOS (Masa Orientasi Siswa). Informasi awal yg saya terima, di sekolah dia yang baru ini, pada waktu MOS laki-laki harus gundul dan perempuan dikuncir 14 ikat. Somehow saya merasa terusik dengan segala ritual orientasi sekolah maupun ekskul ini. Nggak tega aja ngebayangin adik saya gundul gitu (walopun dia pun ternyata punya akalnya sendiri supaya nggak plontos. Haha) 

Kalau saya tidak keliru, tujuan orientasi adalah:
  1. Memperkenalkan siswa dgn teman-teman barunya
  2. Memperkenalkan siswa dgn lingkungan sekolah, guru dan kakak kelas
  3. Menambah rasa kebersamaan antar siswa
  4. Menumbuhkan rasa cinta terhadap instansi/sekolah baru
  5. Memperkenalkan siswa dgn budaya instansi/sekolah baru
Oke mungkin itu kemudian diinterpretasi sbg semua harus sama rata, termasuk model rambut dan atribut. Sama-sama susah dan tersiksa. Di MOS adik saya besok, siswa harus membawa: 1). Indomie 2 bks, gula 1/4 kg, 2). Buku ttg sekolah, 3). Bolpen darah kotor & darah bangsawan, 4) 2 botol minuman merk tertentu, 5). tas karung beras, dll.

Nampak familiar ya? Jaman saya dulu ada juga tuh 'buku banteng 40 halaman (padahal yg dijual cuma 24 halaman, jadi mesti beli 2 buku dan menjahit/mengelemnya jadi 1), tas dari karung goni dan berbagai macam rupa warnanya. Nah, kita juga pernah jadi senior, pernah juga ngerjain juniornya. Nggak pakai mikir. Cuma karena meneruskan tradisi turun temurun aja (ngaku deh, saya juga soalnya). Sambil berkata dalam hati, 'Gue dulu juga ngerasain ini tauk. Sekarang lo harus rasain apa yang gue rasain' *kemudian ketawa ala Laili Sagita *zoom in *zoom out 

Apa ya harus kaya gini terus?
Apa setiap orientasi sekolah harus dilakukan dengan membuat adik-adik kita merubah model rambut, membuat orang tua mereka sibuk mikir teka teki aneh yang dilontarkan senior-seniornya, membuat mereka menangis dan trauma kepanjangan karena kata-kata kasar saat kita sbg senior saat 'mendisiplinkan mereka', atau.. bahkan membuat nyawa mereka melayang karena kita sebagai senior (dan alumni) lalai dalam kegiatan bernama orientasi, seperti kasus ini atau ini. 

Saya pernah merasakan betapa lugunya jadi junior, nurut banget sama apa yang disuruh senior. Nggak mikir bahwa yang mereka suruh itu sebenernya nggak masuk akal dan bahaya. Termasuk pernah juga jadi senior, memberi tugas ke junior simply karena memang dari tahun ke tahun demikian adanya. Mungkin karena nggak ngerti kreativitas apa lagi yang mesti diberikan untuk tugas-tugas adik kelas, sedangkan para guru di sekolah semuanya menyerahkan ke mereka (been there! :D ) 

Kalau misalnya ndak ada ide, ini ada beberapa yang saya kepikiran barusan. Mungkin bisa digunakan: 

Alternatif Kegiatan Orientasi Sekolah 
  1. Cocard: perlu dibuat sesederhana mungkin. Yang penting nama panggilan dan kelas bisa dibaca tho? Boleh berbeda-beda, nggak harus seragam. Boleh dibuat pakai bahan apa saja, yang penting jelas terbaca. (you might be surprised with their creativities :) ) >> ini buat ngajarin anak-anak supaya efisien. Selain itu, mereka juga bisa mengekspresikan apa saja yg mereka mau. 
  2. Hadiah hasta karya untuk teman baru, maksimal dibuat dgn bahan-bahan dgn total Rp 10.000,00. Tugas ini tidak untuk dibawa di hari pertama. Akan diserahkan di hari terakhir orientasi. Mereka boleh buat apa saja, diberikan ke siapa saja yang baru mereka kenal minggu itu. Sebagai bukti akuntabilitas keuangan, mereka perlu melampirkan komposisi bahan pembuat hadiah itu dalam selembar kertas lengkap dgn harganya. (maap kebawa kerjaan. haha). >> suatu saat anak-anak itu akan jadi bendahara kelas, ketua kelas, atau ngurus pembayaran buku LKS atau apapun yang memerlukan pertanggungjawaban keuangan. Ini cara ngajarin mereka untuk peduli sama pencatatan keuangan. Sedangkan hasta karya ini juga bisa jadi cara mereka untuk menghargai teman2 mereka, mempersembahkan yang terbaik yg mereka bisa buat sendiri. Ya syukur2 habis itu ada yang jadian kan seru. :D 
  3. Proyek bersih kota. Kumpulkan anak-anak ini, siapkan 2 kantung sampah hitam besar + sarung tangan plastik + masker untuk tiap anak, dan minta mereka berjalan-jalan keliling kota, membersihkan sampah yang mereka temui di jalanan. Sebagai bukti, harus difoto dengan pose paling maksimal gayanya, diupload ke twitter/instagram, dgn tagar #SMASesuatuBersihKota kirim ke account twitter panitia. Setelah selesai dan semua kembali ke sekolah (tapi pastikan sampahnya dibuang ke TPA ya, jangan dibawa ke sekolah), dan semua orang sudah cuci tangan dgn sabun, sambil makan snack sore, tampilkan foto-foto yang sudah mereka upload di slide besar, sambil diberi 'pemaknaan' (istilah favorit senior2 OSIS saya dulu) tentang kegiatan hari itu. Bersihin sampah itu nggak semuanya mau. Kotor dan bau pula. Makanya, anak-anak ini jangan disiksa terus. Kasih juga mereka hal yang menyenangkan untuk dilakukan. 
  4. Tugas membuat peta kelurahan/kecamatan tempat sekolah berada. Iya, mereka bisa gampang aja download di google dan mengurangi keseruan tugas ini. Tapi bagaimana dengan melengkapi nama tiap bangunan. Buat lebih seru dengan 'cara berangkat sekolah dari rumah memakai transportasi umum'. Macam Google Map versi sederhana gitu lho. Kalau naik bis kota nomer berapa. Naik angkot nomer berapa. Berapa menit kalau jalan kaki. Tapi harus public transportation. >> maksudnya apa? Supaya mereka nggak manja, dan nggak tersesat di sekolah sendiri. Mereka kenal lingkungan dan paham apa aja yang ada di situ. Kenapa transportasi umum? Ya melatih mental mereka untuk cinta sama bis kota dan lambat laun bisa mengurangi kemacetan. Transportasi umum tidak aman? Justru itu.. Kita harus ajari mereka bagaimana menggunakan transportasi umum, apa yang tidak aman, bagaimana cara menjaga diri dari bahaya-bahaya yang ada di transportasi umum. 
  5. Dream sharing. Kegiatan ini fungsinya semacam konseling ke anak-anak baru ini. Pertanyaan utama cuma satu: apa bayangan mereka tentang sekolah baru ini. Apa mereka punya ketakutan tertentu? Apa mereka punya harapan tertentu? Mereka mau ngapain di sekolah? Ya bukan berarti sekolah kemudian wajib untuk memenuhi harapan mereka, bukan.. Tapi untuk menjembatani bahwa apapun yang mereka inginkan (asalkan itu positif dan baik untuk mereka dan lingkungan), dapat terwujud. 
  6. Proyek angkatan. Mau menambah kebersamaan angkatan? Suruh mereka bikin visi angkatan. Selama 3 tahun mereka di SMA, apa yang akan mereka lakukan, kalau secara turun temurun selalu ada pentas seni, minta mereka set target, siapa artis yang akan mereka undang saat mereka jadi panitia. Apa prestasi yang akan mereka raih di angkatan mereka (misal, juara 1 olimpiade fisika nasional, juara 1 paduan suara tk nasional, atau apa gitu). Apa kegiatan sosial yang akan mereka kerjakan saat bakti sosial tahunan? Minta saja mereka deskripsikan.
  7. Jangan pernah gunakan bentakan apalagi kekerasan sebagai bentuk hukuman. Dibentak-bentak itu nggak enak, apalagi dipukul. Latih adik-adiknya untuk berargumen. Kalau mereka nggak ngerjain tugas, tanya apa alasannya, suruh mereka presentasi kenapa mereka nggak ngerjain tugas di depan temen-temennya. Nggak usah buang-buang energi buat marah-marah. Toh ini bulan puasa. Ntar batal lho, kak puasanya :) Mereka ini anak-anak baik, di rumah pun belum tentu pernah dibentak sama orang tuanya. Kamu ni ngasih makan nggak, bayar sekolahnya dia nggak, kok ya main bentak-bentak apalagi sampe mukul. Coba.. Mari latih dan ajari juniormu dengan cinta. <3 halah="" li="" nbsp="">
  8. Kalau mau ngasih kostum atau atribut khas, mbok jangan bikin junior-junior terlihat jelek & malu. Bikin yang keren gitu. Kalau nggak memungkinkan cosplay ya pakai aja seragam sekolah yang bagus dan rapi. Kalau norak kan yang jelek nama sekolah juga. Nanti mereka di jalan diliat orang trus dibilang 'Ih itu sapa tu anak sekolah mana kok norak gitu'. Masa nggak malu jadi seniornya?

Kalau ada panitia orientasi yang baca, saya mau minta tolong, jangan berlebihan kalau ngerjain adik kelasnya ya, kakak-kakak. Jujur saja, saya pun lupa dulu ngerjain adik kelas saya kaya apa. Tapi saya nggak pernah lupa kakak kelas saya ngerjain saya kaya gimana. :) (therefore, i would also like to express my deepest regret and apology for my juniors) 
Ketika teman-teman nanti beranjak dewasa, udah kerja, udah ngerti enak-nggak enaknya dunia di luar masa sekolah, masa-masa ngerjain senior-junior ini akan terasa menggelikan bahkan konyol. Orientasi dengan bentuk Ngerjain Sistemik ini bukan sesuatu yang perlu terus kita lakukan hanya karena 'dari dulu juga gitu kok, semua ngalamin'. Kita bisa kok menghentikan budaya aneh ini. Kita bisa merubah budaya orientasi sekolah dan kegiatan jadi lebih menyenangkan buat semua orang. Supaya apa? Supaya suatu saat, ketika junior yang kamu bully di sekolah ternyata jadi atasanmu di kantor, kamu nggak sungkan karena dulu pernah ngerjain dia. :D 

Kita nggak pernah tahu seperti apa lucunya jalan hidup ini. 
Bersikaplah baik. Sama semua orang. Kapan saja. 
Selamat malam. :) 



PS: Selamat memasuki dunia SMA, my dear (not so) little (anymore) brother, Be happy, be awesome! 



Friday, July 11, 2014

Belize: sahabat baru Indonesia

Saat saya buka website kantor sore ini (sambil nunggu surat), saya tergelitik dengan berita ini:


Pemerintah Indonesia secara resmi membuka hubungan diplomatik dengan Belize. Hal ini dilakukan melalui penandatanganan Komunike Bersama (Joint Communiqué) antara Duta Besar Republik Indonesia untuk Meksiko, Hamdani Djafar, dengan Duta Besar Belize untuk Meksiko, Duta Besar Oliver del Cid, di kediaman Duta Besar Belize di Mexico City (9/7).
Melalui pembukaan hubungan diplomatik dengan Belize ini, Indonesia saat ini tercatat telah memiliki hubungan diplomatik dengan 186 negara PBB.
Sementara bagi Belize, saat ini tengah gencar membuka hubungan diplomatik dengan negara-negara anggota PBB. Pada kesempatan yang sama, Belize juga membuka hubungan diplomatik dengan Palestina. 
Pembukaan hubungan diplomatik Belize dan Palestina ini ditanggapi positif oleh Duta Besar Hamdani Djafar yang kembali menyampaikan dukungan Indonesia untuk mewujudkan negara Palestina yang berdaulat dan merdeka.

Trus kemudian saya tertarik untuk mengenal lebih jauh, Belize itu dimana ya? Wikipedia pun membantu saya:

Belize adalah negara tropis indah di Amerika Tengah. Sebelahan sama Meksiko dan Guatemala. Yang lebih seru, Belize punya pantai-pantai cantik yang menghadap Laut Karibia. Panjang daratan utama Belize sekitar 290 km (bandingkan dengan jarak Semarang - Surabaya yang sekitar 310 km).


Kalau Anda search Belize di Google, yang paling mencolok adalah The Great Blue Hole.
Ini adalah atol kecil, jaraknya sekitar 70 km dari daratan dan ibukota Belize (Belize City). Atol ini merupakan warisan budaya dunia UNESCO lho. Bagian laut yang berwarna lebih gelap itu lubang raksasa. Melihat gambar atol ini antara pengen nyelam di dalamnya tapi ngeri juga kalau tau-tau ada monster laut yang menerkam > kebanyakan begaol sama Jack Sparrow. 






Hal menarik lain dari Belize adalah kekayaan flora dan fauna yang ada di dalamnya. Berkat letak strategisnya yang ada diantara Amerika Utara dan Selatan, Belize menjadi surga tropis untuk ratusan tanaman dan hewan. Hutan-hutan Belize memang menjadi rumah yang nyaman untuk jaguar dan nuri khas Amerika. Bersama mereka tinggal pula armadilo, monyet-monyet, dan ular (apakah ada anaconda? x_x )



Bangsa Maya diperkirakan telah ada di Belize dan daerah Yukatan sejak 2000 SM. Memang sih, sebagian besar bangsa Maya sudah hilang akibat berbagai penyakit, konflik antar suku dan perang dengan bangsa Eropa. Tapi sekarang, masih ada tiga suku Maya yang masih tinggal di negara ini: the Yucatec, the Mopan dan Kek' Chi. Tidak hanya itu, di Belize juga tersebar berbagai bangunan (candi) suku Maya.



Belize nampak seru sekali ya, Teman-teman. Ada yang udah pernah ke sana?
Semoga kita bisa mengunjungi Belize suatu saat nanti yah.. Amin.

Selamat berakhir pekan :)


Monday, July 7, 2014

Tentang WNI yang tidak bisa memberikan suara di Hong Kong

Selamat hari Senin, teman-teman.

Saya menulis ini terkait pemberitaan ttg penyelenggaraan Pemilu di Hongkong yang beredar pada Minggu, 6 Juli 2014 kemarin. Mereka bilang, ada petugas TPS yang menolak para WNI Hong Kong untuk memberikan hak pilihnya. Mereka bilang, petugas tidak netral, katanya TPS akan dibuka kalau nyoblos no sekian, kalau nyoblos no lain tidak akan dibuka. Saya membaca beritanya di timeline. Tidak ketinggalan, beberapa rekan pun mengirimkan tautan berita lewat BBM dan whatsapp pada saya. Meminta konfirmasi kebenaran berita tersebut.

Konfirmasi dari Bapak Konjen RI di Hong Kong, Chalief Akbar, telah dimuat di berbagai media, ini salah satunya http://bit.ly/Vxn0sj

Untuk merangkum konfirmasi dari Pak Konjen dan info rekan-rekan KJRI Hong Kong, berikut ini beberapa hal yang bisa saya sampaikan:
  1. Undangan memilih pukul 09.00-17.00 waktu Hong Kong diberlakukan sesuai izin dari Pemerintah Hong Kong. Pemberitaan bahwa petugas menutup TPS di Victoria Park, Hong Kong sebelum waktunya itu tidak benar. TPS ditutup pukul 17.00 setelah antrian benar-benar habis. Namun 10 menit kemudian tiba-tiba ada warga yang ingin masuk lagi.
  2. Penggunaan Victoria Park di atas jam 17 memerlukan izin tambahan dari Pemerintah dan aparat keamanan HK. Petugas KJRI HK sdh meminta izin namun tdk bisa diberikan karena memang batas waktu sudah habis.
  3. Bahwa petugas PPLN di Hongkong tidak netral, itu tidak benar. Ada saksi-saksi dari tim sukses / parpol pengusung kedua pasang calon yang berada di TPS. Selain itu ada juga 3 LSM sbg pemantau dan diliput media internasional.
  4. Selain itu, di TPS Victoria Park, Hong Kong juga hadir komisioner KPU dan kebetulan Ketua Banwaslu sedang berada di sana juga.
  5. Kalau beredar foto Bp. Sigit, komisioner KPU yang dituding sebagai pihak yang tidak netral dalam pemberitaan selama hari Minggu kemarin, itu tidak benar. Justru Bp Sigit yang telah susah payah memberikan penjelasan kepada para pemilih dan masyarakat RI di Hong Kong.
  6. Kementerian Luar Negeri dan KPU melalui KJRI Hong Kong tentu ingin memfasilitasi WNI untuk memberikan hak suaranya pada pemilihan umum . Namun tentu semua ada aturannya. Apalagi kalau kegiatan yang dilakukan ada di wilayah hukum negara lain.

Semakin mendekati 9 Juli 2014, berbagai fitnah, hasutan dan berita bohong banyak sekali berseliweran di sekitar kita. Dalam kapasitas saya sebagai pegawai negeri, saya ingin membantu meluruskan informasi yang berseliweran di timeline saya sejak 12 jam yang lalu. Semoga ini bisa mengimbangi ‘kehebohan’ ini.

Sekalian mengingatkan, pada 9 Juli 2014, TPS di Indonesia hanya buka jam 07.00 hingga jam 13.00 saja. Jangan terlambat memberikan hak suara Anda. :)

Salam manis,

^^v


PS:
Saya tidak akan memberikan jawaban ttg quick count di luar negeri. Kementerian Luar Negeri tidak melakukan quick count. Mungkin konfirmasi bisa ditanyakan ke lembaga/pihak yang melakukan quick count luar negeri, survei atau metode apa yang dilakukan.







Sunday, April 27, 2014

Mitos 2: "Pacaran sama bule aja"

Heran. Selalu ketika saya bilang tentang pekerjaan saya, orang-orang kaget dengan dua hal:
  1. Bahwa Diplomat Indonesia HARUS menikah dengan Warga Negara Indonesia
  2. Bahwa Diplomat Indonesia BOLEH menikah dengan rekan seprofesinya
Dua poin itu diatur dalam Peraturan Menteri Luar Negeri No 04 Tahun 2009, bagian 19: Pernikahan dan Perceraian. Yoi, masbro dan mbaksis. Perkawinan dan perceraian pun diatur oleh negara. Banyak yang kaget sih sampai ranah pribadi pun diatur dengan produk hukum seserius ini. Tapi kantor BUMN depan kantor saya juga menerapkan hal yang sama kok btw.. Well, kalo ini aja udah bikin panjenengan kaget, silakan googling bagaimana peraturan pernikahan dan perkawinan anggota TNI/Polri. Kan saya udah bilang, ini kontrak lahir batin, begitu setuju menjadi bagian dari aparat pemerintah, stempel 'MILIK NEGARA' pun sudah melekat di dahi kita. Kehidupan pribadi pun ya jadi urusan dinas. Aturannya gimana, ya ditaati. 

So, kalo situ mau jadi diplomat karena pengen nikah sama bule. I am so sorry to say ya, Cyin..  Kecuali panjenengan punya superpower, nikah dengan WNA nggak bisa dilakukan. Jika kau cinta lelaki asing itu, tanggalkanlah status diplomatikmu. Jika memang kau cinta pekerjaan dan profesimu, buatlah lelaki Indonesia melamarmu (hehehe). Tapi kalo dipikir-pikir, aku tes CPNS Kemlu sekali trus alhamdulillah keterima. Tapi aku udah pacaran berkali-kali, alhamdulillah semuanya putus. Jadi, buat aku pribadi, lebih susah pacaran daripada masuk Kemlu. Jadi ya... Ini apa sih kok malah curhat. :| 

Oh tentang nikah dengan sesama Diplomat Indonesia. Boleh bangeeeetttt.. Kalo kata sahabat aku, "We are smart and attractive young people, all gather-up in one place. It's impossible not to be attracted to each other". Angkatan kami banyak yang 'incest'. Senior-senior kami juga. Kemudian kalau penempatan luar negeri gimana? Masa tinggal berjauhan? Dalam Permenlu diatas, dijelaskan bahwa pasangan diplomat suami-istri dapat ditempatkan di Perwakilan yang berdekatan, dengan mempertimbangkan kompetensi dan kemampuan ybs. Misal, suami di KBRI Kuala Lumpur, istri di KJRI Penang. Atau, suami di KBRI Washington DC, istri di PTRI New York (kalau ini suami-istri memang sangat sangat berprestasi dan pinter). Bisa juga 'diakali' dengan sama-sama menguasai bahasa Mandarin biar sama-sama ditempatkan di RRT, misal istri di KBRI Beijing, suami di KJRI Guang Zhou. Kecil kemungkinan untuk serumah sih, tapi setidaknya masih ada di satu negara.

Satu hal lagi yang nggak enak dan harus diketahui oleh mbak-mbak yang pengen jadi diplomat. *berbisik nada gosip* konon katanya, diplomat perempuan itu susah cari jodoh. (Naudzubillahimindzalik!). Soalnya, aturannya macem-macem. Dan nanti suaminya nggak boleh kerja. Itu salah kaprah sih menurut saya. Aturan itu dibikin manusia untuk mempermudah urusan-urusan manusia. Aturan bisa dirubah. Kalau aturan tidak bisa dirubah, kita yang menyesuaikan diri dengan aturan. Kita taati aturan. Kalau kepentingan pribadi kita bertolak belakang dengan aturan, ya lepaskan dirimu dari aturan itu. 

Beberapa strategi senior untuk mengatasi problematika 'suami tidak bisa bekerja saat diplomat perempuan penempatan' (termasuk Dubes Pembimbing saya yang menikah dengan seorang bankir) sebagi berikut:
  1. Mengajukan diri untuk ditempatkan di Jakarta: Perutusan Tetap RI untuk ASEAN >> Keluarga tidak perlu paspor hitam dan tidak perlu status diplomatik. Sehingga terlepas dari kewajiban status diplomatik. 
  2. Mengajukan diri untuk ditempatkan di Perwakilan yang dekat dengan Indonesia, misalnya di negara-negara ASEAN, Timor Leste, Papua Nugini, Australia, dll. >> Suami dapat tetap bekerja di Indonesia, atas izin kantor dan Kepala Perwakilan, dengan pengaturan khusus lebih lanjut. 
  3. Menikah dengan pria yang bisa bekerja dimana saja, tidak terikat dengan bangunan fisik berupa kantor. >> Misalnya, artis (misalnya Theo James gitu, eh itu WNA ya? Haha), musisi, wartawan, penulis, dosen, pengusaha, online-based business, arsitek, dokter, pendeta, sebutkanlah apa saja, asal dikomunikasikan dengan kantor Pusat dan Kepala Perwakilan. 
  4. .......... (isilah titik-titik di samping)
PS: Sebenarnya definisi tidak boleh bekerja ini masih rancu. Yang ingin dihindari adalah penyalahgunaan status diplomatik beserta hak istimewa yang melekat padanya. Tidak bisa digeneralisir dan mesti dilihat per kasus. Sekali lagi, semuanya kembali kepada kondisi dan situasi dari masing-masing kasus. 

Anywaaayy... Masalah jodoh sih udah ada yang ngatur. Kalau jodohnya sama bule ya tinggal dadah byebye sama paspor diplomatik. Kalau masih jodoh sama paspor diplomatik ya Insya Allah nanti jodohnya WNI. Kalau jodohnya sesama diplomat ya Insya Allah nanti dipermudah. Kalau jodohnya sama pengusaha, atau dokter (#eh) ya kan Insya Allah nanti ada solusinya. Tenang aja, Jeng.. Ketika kamu membaca, riset dan menulis berbagai laporan tentang masalah-masalah dunia. Misteri tentang siapa yang akan meminangmu itu agak malu-maluin kalo jadi sumber kegalauan. Beneran. The right one worth the wait. :) 


Sayang menjadikan Theo James WNI butuh waktu yang sangat lama :( 

Mitos 1: Masuk Kemlu = Bekerja di Luar Negeri

Hampir semua orang yang bilang pengen masuk Kemlu selalu saya tanyakan "Kenapa?". Banyak yang menjawab "Ingin kerja di luar negeri." 

Tidak salah. 

Salah satu tugas Kementerian Luar Negeri adalah mempersiapkan dan menempatkan Diplomat, serta staf penunjang lain, untuk ditugaskan di 132 Perwakilan RI yang tersebar di seluruh penjuru dunia. Tapi bukan berarti, ketika masuk ke Kemlu, kita akan langsung ditugaskan ke luar negeri. 

Waktu kemarin saya berkesempatan pergi ke Belanda, Perancis dan Belgia, itu adalah kesempatan dan keberuntungan luar biasa buat anak baru. Penugasan selama 8 minggu tersebut dalam rangka tugas belajar. Ditugaskan untuk belajar. Karena memang pada masa awal kita di Kemlu (setidaknya dalam 12-14 bulan pertama), kita adalah 'newbie'. Harus belajar dari mana saja, kapan saja, apa saja. Kita itu yang paling junior, strata paling rendah dalam piramida. Bagaikan sarjana kedokteran yang sedang ko-ass (if you know what I mean. :p ) Dari kelas-kelas Sekdilu, digembleng dalam berbagai kepanitiaan, lari kesana kemari jadi LO pakai jas lengkap plus sepatu berhak dalam cuaca Nusa Dua yang bisa mencapai 35'C, sampai terkaget-kaget dengan administrasi kepegawaian yang njelimet. Mental anak manja nggak akan survive dengan masa-masa ini. Meskipun anak paling mandiri sekalipun akan masih sangat butuh dukungan (moral dan finansial) orang tuanya di masa sulit ini. haha

Setelah masa itu selesai? Apakah kemudian kita akan siap ditempatkan untuk bekerja ke luar negeri? 
Oh, tunggu dulu. Ini bukan PJTKI illegal yang memberangkatkan TKI sembarangan tanpa dibekali keterampilan cukup. :( 

Negara tidak bisa menempatkan staf begitu saja di luar negeri. Karena biayanya mahal. Staf yang akan berangkat penempatan harus terlatih dan mumpuni. 

Maka dari itu, Diplomat (baca: PDLN -Pejabat Dinas Luar Negeri- ) akan 'digodok' terlebih dahulu di Jakarta: kantor Pusat Kemlu. Untuk dilatih lagi supaya jadi diplomat handal. 

Apa saja yang harus dilatih? Kan yang masuk Kemlu (katanya) udah pinter-pinter, creme de la creme, bla bla bla. Pintar saja tidak cukup, Bung! Ini masalah keterampilan dan latihan. 

Semakin hari saya ada di kantor, saya merasa makin banyak yang harus saya pelajari. 
Dari hal sepele tentang kertas HVS mana yang harus dipakai untuk laporan dan mana yang untuk surat, gimana caranya fotokopi surat yang pakai kertas folio ke ukuran A4, dokumen-salah-print mana yang harus langsung dishreder dan yang boleh jadi kertas oret-oret, gimana caranya ganti tinta printer kantor (yang ternyata gampang banget. Hahaha), trus kalau kita harus ke kantor Minggu pagi buat jaga piket situation room gimana caranya ambil kunci, atau hal-hal yang lebih serius kaya bagaimana membuat analisis kinerja kegiatan, atau membuat draft laporan penanganan kasus yang akan dibaca oleh Pimpinan, atau tata bahasa seperti apa yang harus digunakan agar laporan/surat yang kita tulis terbaca lebih halus dan diplomatis. Itu hal teknis.

Belum lagi masalah kesiapan mental dengan berbagai informasi dalam berbagai isu dari berbagai belahan dunia yang rasanya terlalu 'raksasa' untuk orang yang dulu cuma mikir 'film Avengers yang baru kapan ya mainnya'. Untuk menjaga kewarasan saya, saya sekarang membatasi diri baca situs berita cuma waktu jam kerja. Di luar jam kerja saya baca Harry Potter, Percy Jackson, Hunger Games dan Divergent series. ( ._.)/|ben ra edan| 

Kemudian.. ada satu hal penting, maha penting, yang harus kita kenali, sayangi, dan peluk erat saat berkarier di pemerintahan: birokrasi. :) 

Aku tau kamu cemberut pas baca kata birokrasi. :D 
Kenapa sedih? 
Itu makanan sehari-hari ketika panjenengan kontrak lahir batin dengan masuk ke sistem seleksi CPNS. Bagaimana bentuk instansi ini, apa sifatnya, badan-badan apa saja yang menyusun raksasa ini, siapa saja orang yang mempengaruhinya. Kemudian masalah perilaku, mana yang wajib, makruh, sunnah, haram. Semua itu nggak cukup dipelajari hanya dalam waktu 1 tahun. Jangan sedih kalau ini semua terlalu sulit. Katanya Generasi Y, generasi perubahan. Kalau kita nggak pernah tau cara sistem ini bekerja, kita nggak akan tahu dimana celahnya dan bagaimana memperbaikinya (ini sebenernya note to myself sih.) 

Saya mengamini teori Malcom Gladwell yang berkata bahwa seseorang perlu 10.000 jam untuk menjadi ahli dalam suatu bidang. 10.000 jam kerja kira-kira setara dengan 5 tahun. Masa itu juga yang diprediksikan menjadi waktu tunggu kami (angkatan 37) sampai akhirnya kami (bila Tuhan menghendaki) bisa diberi tugas untuk mewakili Indonesia di Perwakilan RI. Setelahnya, siklus 3 tahunan akan berjalan. 3 tahun dinas di luar negeri, 3 tahun dinas di dalam negeri, begitu seterusnya kecuali ada perubahan peraturan atau karena ada tugas lain dari Pimpinan. 

Jadi, dengan berat hati saya katakan, kalau ingin langsung bekerja di luar negeri, bukan di sini tempatnya. :) 
Foto random akibat bosan baca dokumen pas lagi audit

Kewajiban Moral Pemilik Blog Ini >__<

Banyak e-mail dari teman-teman pembaca blog ini yang bertanya tentang the dos and don’ts saat ingin menjadi Diplomat. Bagaimana caranya masuk Kemlu? Apa yang harus dipersiapkan untuk menjadi Diplomat? Jurusan apa yang harus diambil? Sebagian besar sudah saya jawab di beberapa tulisan saya terdahulu. Tapi kalau masih kurang jelas, silakan kirim pertanyaan teman-teman ke e-mail saya (tapi please jangan marah kalau lama balesnya yak. Hehe.)

Seiring dengan banyaknya jumlah komentar dan e-mail dari teman-teman yang mewarnai inbox saya (Thank you! I love your e-mails), saya merasa punya tanggung jawab moral untuk kemudian memberikan sedikit penjelasan tentang kehidupan sebagai Diplomat dan atau Aparatur Sipil Negara Kementerian Luar Negeri. Karena kadang-kadang saya merasa agak bersalah kalau teman-teman bilang 'karena baca tulisan kakak, saya jadi pengen masuk Kemlu'. Waduh. Itu beban luar biasa. >_< Nanti kalau kalian beneran masuk Kemlu trus nggak sesuai sama bayangan akibat baca tulisan saya kan saya dosa. Masa saya nggak bisa masuk surga gara-gara bikin orang kecewa kan nggak lucu. *jongkok ngadep tembok* 


Maka dari itu, tulisan-tulisan saya selanjutnya akan bertema tentang hari-hari saya di kantor (dan tentu saja akan diselingi dengan masa-masa dimana saya butuh melarikan diri dari pekerjaan yang lebih demanding daripada saya kalo lagi pacaran). Sebenernya, selain untuk sharing sama teman-teman, saya sendiri butuh nulis di blog saya ini. Terutama karena sebagian besar pekerjaan sekarang saya adalah menulis. Entah itu laporan analisis, draft laporan-laporan untuk Pimpinan, draft-draft surat, laporan penanganan kasus. Semuanya perlu latihan. Dan blog ini, tempat latihan saya. :) 

Tulisan-tulisan saya bukan merupakan pernyataan resmi Kementerian Luar Negeri atau instansi manapun. Ini merupakan tulisan personal dan tidak bisa digunakan atau dikutip sebagai pernyataan instansi dimana saya bernaung. 

Semoga bermanfaat. :) 



Salam Cilukba! 


Friday, March 28, 2014

Tunggu apa lagi? Nikah aja..

Disclaimer: yang ini posting curhat. bukan urusan substansi. Maap maap ye.. :p

Di kantor saya lagi happening banget yang namanya SIMPEG. Sistem Kepegawaian: dimana kita bisa memasukkan database kepegawaian kita secara online dan terintegrasi. Dari data pribadi standar macam tempat tanggal lahir, alamat, riwayat pendidikan, golongan darah, sampai riwayat kepangkatan dan pengalaman kerja. Bahkan kalau (amit-amit, naudzubillahimindzalik) ada catatan khusus kasus kepegawaian akan bisa dimasukkan ke dalam database ini. 

Dalam data punya saya, yang bikin agak tergetar hatiku itu di kolom usia: 26 tahun 7 bulan. Dan kolom status: BELUM MENIKAH. (iya, tulisannya kapital semua. Sungguh kasar aplikasi ini, jomblo aja diteriak-teriakin coba.. :( #drama ). Sebenernya sih, saya juga belum pengen nikah. Nggak dalam waktu dekat. Yang pengen saya nikah dalam waktu dekat itu ibu saya, eyang saya, adik saya, tetangga saya, tetangganya eyang, tante saya, sepupu saya, temen saya, temen kantor saya..... Mereka itu saya sebut sebagai.. stakeholders. Pemangku kepentingan. Mereka berkepentingan terhadap hidup saya, terhadap kebahagiaan saya. 

Memang, Secara sosial, perempuan umur 20an akhir di Indonesia memang sudah saatnya menuju mahligai rumah tangga yang bahagia sakinah mawadah wa rohmah. Amin. Temen-temen saya juga nggak sedikit yang sudah punya buntut, bahkan yang punya dua juga udah ada. Saya? Yah.. gitu deh~

Kehidupan sosial kita itu memang selalu ada tahapannya. Orang tua pasti akan mengharapkan anaknya untuk: sekolah, kuliah, kerja, nikah, punya anak, punya cucu, mati, masuk surga. Gitu kira-kira idealnya. Namun terkadang, jalan hidup ini tidak semulus jalan tol baru Bawen-Ungaran. Ya saya ini simply single gitu. Mau semua orang nanyain mantan saya yang udah nggak jelas kemana arahnya sesering apapun ya kalau nggak jodoh mesti diapain? 

Entah karena kebetulan, emang takdir, atau emang kami ini nularin satu sama lain... saya dan beberapa sahabat perempuan saya single dalam waktu bersamaan. Kayak wabah gitu lah. Jomblo endemis. (Oh no!) Uniknya, kami semua sama-sama sedang memulai karier di bidangnya masing-masing dan asal tau aja, itu sahabat-sahabat saya nggak ada yang jelek atau jahat. Semuanya cantik luar dalam (kalo saya? ya jangan tanya, nggak ada cakep-cakepnya, kalo tidur aja nganga x_x ). 

Ada dua teori self-defense yang bisa saya kemukakan: 
1. Pria-pria itu tidak cukup berani untuk menjadi pasangan wanita karier karena takut istri mereka akan lebih sukses.
2. Pria-pria ini terlalu mengenal sang kekasih untuk tahu bahwa sebenernya kekasihnya ini belum siap settle down dan lagi pengen eksis di dunia kerja. 
(sebagai self-defense, kami selalu memilih alasan pertama, soalnya kalo milih yang kedua ntar jadinya gagal move on :| ) 

Yang nggak enak jadi perempuan karier single di umur segini adalah serangan galau kronis. *menghela nafas* Saya sebenernya nggak suka bilang 'jadi cewek gak enak karena bla bla bla, dan jadi cowok enak karena bla bla bla'. Karena menurut saya, statement itu sudah diwakili Beyonce di if I were a boy. (apa sih dhin...) Hanya saja.. dalam hemat saya, sumber galau kronis ini memang cuma ini:

Kalau laki-laki, usia 25 tahun, sudah bekerja mapan dan ditanya 'nunggu apalagi kok nggak nikah-nikah' dan dia menjawab dengan "mau fokus ke karier dulu", masyarakat akan dengan senyum bahagia dan bangga, menepuk pundaknya, memberinya ulos, memotong tumpeng untuknya sambil menyalakan kembang api dan berkata, "Yeah, Maaannn.. You're right! Go for your career. Go get all money. You don't need to settle down! Cewek-cewek nanti ngantri jadi istri kamuh! Yeaaah.." sambil diarak keliling kampung naik tandu sunatan masal (iya, emang lebay, baru nyadar?)  

Lain halnya kalau yang jawab kaya gitu perempuan, 25 tahun, baru 1 tahun keterima kerja dalam pekerjaan profesional pertamanya. 

Budhe imajinatif, dalam setting arisan keluarga tahunan: "Mbak katanya sekarang udah jadi pe en es ya di Jakarta? Wah.. enaknya sekarang tinggal nikah dong?"
(anggap saja) Aku: "Anu, Budhe.. Saya belum punya rencana menikah, soalnya mau fokus karier du..." (belum selesai ngomong sebenernya) 
Budhe imajinatif: "APA??" *zoom in zoom out* "Fokus karier? Ih. Nanti kalau kamu kerja terus kamu lupa nikah gimana? Emangnya kamu nggak mau punya anak? Mana kamu ini sudah es duwa! Cowok-cowok pasti nanti makin takut kalau karier kamu bagus. Nggak usahlah kejar-kejar karier segala. Ngapain sih fokus kok fokus karier. Inget umurmu!" 
Aku: (senyum manis) "Nggih, Budhe." (tapi dalam hati nangis gulung-gulung. siapa juga yang nggak inget umur.. diingetin kok sama Simpeg tiap ke kantor, trus akhirnya karena kesel tidak tersalurkan trus nulis blog. haha) 
Budhe imajinatif: "Nunggu apa lagi sih?"
Aku: (agak bete tapi karena gak boleh bete akhirnya jawab ngawur) "Nunggu dilamar, Budheeee.. Kan aku ni perempuan. Nanya kapan nikah tu sama cowok. Kalo nanya sama perempuan, dia nggak akan bisa jawab kalau belum dilamar" 

Masalah sahabat-sahabat saya juga kurang lebih berputar pada itu. Tekanan sosial untuk menikah. Sumber kegalauan ini adalah keinginan kami untuk mengapresiasi ekspektasi lingkungan yang belum bisa kami wujudkan. Simply because it's not the right time yet. We have not found the one. And we are now actually too busy to adapt in our new world. That's all. 

Well.. kalaupun nanti kami menemukan sang calon pasangan hidup, dan akhirnya merencanakan pernikahan. Itu bukan berarti kemudian menjadikan masalah tekanan sosial selesai, Saudara-Saudaraaaaaaaa.. Buat banyak orang, Pernikahan yg didahului dengan P besar itu adalah samaran dari kata PESTA. Menurut saya pribadi, itu sebenernya pemborosan nggak penting. Ratusan juta melayang untuk event beberapa jam. Dan itu pun bukan konferensi internasional yang membahas tentang perdagangan bebas! Itu cuma kumpul-kumpul keluarga yang meresmikan dua manusia untuk boleh tinggal satu rumah dan punya anak bersama dengan legal dan halal. Itu aja kan? Tapi kalo saya bilang ke keluarga saya bahwa, "aku mau nikahnya akad aja trus bagi-bagi nasi kotak ke tetangga rumah" mbok aku yakin besoknya aku dimasukin pesantren dan dirukiyah. :| 

Balancing your own wish and answering people's expectation towards you is a challenge. People have a certain image about you. They expect you to think and behave as they wish. It's our choice to choose: whether to fulfil their expectation or to live in our way. Just remember that you have every single right in this world to be happy and feel happy about yourself. Also put in your mind that each person has their own value of happiness. I mentioned a lot about my own wish vs my family's expectation, but deep down inside, I know that I will do anything and everything to make them happy and proud of me. It's just the way it is. They are THAT important. 

Satu lagi, jangan gampang berasumsi sama semua yang kamu baca atau dengar. Apalagi di social media. Apalagi kalau yang kamu baca adalah orang yang berpengalaman di branding dan marketing. Bukan berarti orang yang menikmati pekerjaannya itu gila kerja. Bukan berarti orang yang selalu posting foto anaknya itu ibu teladan. Bukan berarti yang posting foto jalan-jalan melulu itu berarti kerjanya cuma jalan-jalan. Cara terbaik mengenal seseorang adalah dengan bertemu dengannya dan berjabat tangan kemudian mengobrol langsung. Bukan dari potongan status atau pilihan lagu atau upload foto/meme. 

Ambil serutan di rumah Lili
Cukup sekian dan terimikisiiihhh