Friday, March 28, 2014

Tunggu apa lagi? Nikah aja..

Disclaimer: yang ini posting curhat. bukan urusan substansi. Maap maap ye.. :p

Di kantor saya lagi happening banget yang namanya SIMPEG. Sistem Kepegawaian: dimana kita bisa memasukkan database kepegawaian kita secara online dan terintegrasi. Dari data pribadi standar macam tempat tanggal lahir, alamat, riwayat pendidikan, golongan darah, sampai riwayat kepangkatan dan pengalaman kerja. Bahkan kalau (amit-amit, naudzubillahimindzalik) ada catatan khusus kasus kepegawaian akan bisa dimasukkan ke dalam database ini. 

Dalam data punya saya, yang bikin agak tergetar hatiku itu di kolom usia: 26 tahun 7 bulan. Dan kolom status: BELUM MENIKAH. (iya, tulisannya kapital semua. Sungguh kasar aplikasi ini, jomblo aja diteriak-teriakin coba.. :( #drama ). Sebenernya sih, saya juga belum pengen nikah. Nggak dalam waktu dekat. Yang pengen saya nikah dalam waktu dekat itu ibu saya, eyang saya, adik saya, tetangga saya, tetangganya eyang, tante saya, sepupu saya, temen saya, temen kantor saya..... Mereka itu saya sebut sebagai.. stakeholders. Pemangku kepentingan. Mereka berkepentingan terhadap hidup saya, terhadap kebahagiaan saya. 

Memang, Secara sosial, perempuan umur 20an akhir di Indonesia memang sudah saatnya menuju mahligai rumah tangga yang bahagia sakinah mawadah wa rohmah. Amin. Temen-temen saya juga nggak sedikit yang sudah punya buntut, bahkan yang punya dua juga udah ada. Saya? Yah.. gitu deh~

Kehidupan sosial kita itu memang selalu ada tahapannya. Orang tua pasti akan mengharapkan anaknya untuk: sekolah, kuliah, kerja, nikah, punya anak, punya cucu, mati, masuk surga. Gitu kira-kira idealnya. Namun terkadang, jalan hidup ini tidak semulus jalan tol baru Bawen-Ungaran. Ya saya ini simply single gitu. Mau semua orang nanyain mantan saya yang udah nggak jelas kemana arahnya sesering apapun ya kalau nggak jodoh mesti diapain? 

Entah karena kebetulan, emang takdir, atau emang kami ini nularin satu sama lain... saya dan beberapa sahabat perempuan saya single dalam waktu bersamaan. Kayak wabah gitu lah. Jomblo endemis. (Oh no!) Uniknya, kami semua sama-sama sedang memulai karier di bidangnya masing-masing dan asal tau aja, itu sahabat-sahabat saya nggak ada yang jelek atau jahat. Semuanya cantik luar dalam (kalo saya? ya jangan tanya, nggak ada cakep-cakepnya, kalo tidur aja nganga x_x ). 

Ada dua teori self-defense yang bisa saya kemukakan: 
1. Pria-pria itu tidak cukup berani untuk menjadi pasangan wanita karier karena takut istri mereka akan lebih sukses.
2. Pria-pria ini terlalu mengenal sang kekasih untuk tahu bahwa sebenernya kekasihnya ini belum siap settle down dan lagi pengen eksis di dunia kerja. 
(sebagai self-defense, kami selalu memilih alasan pertama, soalnya kalo milih yang kedua ntar jadinya gagal move on :| ) 

Yang nggak enak jadi perempuan karier single di umur segini adalah serangan galau kronis. *menghela nafas* Saya sebenernya nggak suka bilang 'jadi cewek gak enak karena bla bla bla, dan jadi cowok enak karena bla bla bla'. Karena menurut saya, statement itu sudah diwakili Beyonce di if I were a boy. (apa sih dhin...) Hanya saja.. dalam hemat saya, sumber galau kronis ini memang cuma ini:

Kalau laki-laki, usia 25 tahun, sudah bekerja mapan dan ditanya 'nunggu apalagi kok nggak nikah-nikah' dan dia menjawab dengan "mau fokus ke karier dulu", masyarakat akan dengan senyum bahagia dan bangga, menepuk pundaknya, memberinya ulos, memotong tumpeng untuknya sambil menyalakan kembang api dan berkata, "Yeah, Maaannn.. You're right! Go for your career. Go get all money. You don't need to settle down! Cewek-cewek nanti ngantri jadi istri kamuh! Yeaaah.." sambil diarak keliling kampung naik tandu sunatan masal (iya, emang lebay, baru nyadar?)  

Lain halnya kalau yang jawab kaya gitu perempuan, 25 tahun, baru 1 tahun keterima kerja dalam pekerjaan profesional pertamanya. 

Budhe imajinatif, dalam setting arisan keluarga tahunan: "Mbak katanya sekarang udah jadi pe en es ya di Jakarta? Wah.. enaknya sekarang tinggal nikah dong?"
(anggap saja) Aku: "Anu, Budhe.. Saya belum punya rencana menikah, soalnya mau fokus karier du..." (belum selesai ngomong sebenernya) 
Budhe imajinatif: "APA??" *zoom in zoom out* "Fokus karier? Ih. Nanti kalau kamu kerja terus kamu lupa nikah gimana? Emangnya kamu nggak mau punya anak? Mana kamu ini sudah es duwa! Cowok-cowok pasti nanti makin takut kalau karier kamu bagus. Nggak usahlah kejar-kejar karier segala. Ngapain sih fokus kok fokus karier. Inget umurmu!" 
Aku: (senyum manis) "Nggih, Budhe." (tapi dalam hati nangis gulung-gulung. siapa juga yang nggak inget umur.. diingetin kok sama Simpeg tiap ke kantor, trus akhirnya karena kesel tidak tersalurkan trus nulis blog. haha) 
Budhe imajinatif: "Nunggu apa lagi sih?"
Aku: (agak bete tapi karena gak boleh bete akhirnya jawab ngawur) "Nunggu dilamar, Budheeee.. Kan aku ni perempuan. Nanya kapan nikah tu sama cowok. Kalo nanya sama perempuan, dia nggak akan bisa jawab kalau belum dilamar" 

Masalah sahabat-sahabat saya juga kurang lebih berputar pada itu. Tekanan sosial untuk menikah. Sumber kegalauan ini adalah keinginan kami untuk mengapresiasi ekspektasi lingkungan yang belum bisa kami wujudkan. Simply because it's not the right time yet. We have not found the one. And we are now actually too busy to adapt in our new world. That's all. 

Well.. kalaupun nanti kami menemukan sang calon pasangan hidup, dan akhirnya merencanakan pernikahan. Itu bukan berarti kemudian menjadikan masalah tekanan sosial selesai, Saudara-Saudaraaaaaaaa.. Buat banyak orang, Pernikahan yg didahului dengan P besar itu adalah samaran dari kata PESTA. Menurut saya pribadi, itu sebenernya pemborosan nggak penting. Ratusan juta melayang untuk event beberapa jam. Dan itu pun bukan konferensi internasional yang membahas tentang perdagangan bebas! Itu cuma kumpul-kumpul keluarga yang meresmikan dua manusia untuk boleh tinggal satu rumah dan punya anak bersama dengan legal dan halal. Itu aja kan? Tapi kalo saya bilang ke keluarga saya bahwa, "aku mau nikahnya akad aja trus bagi-bagi nasi kotak ke tetangga rumah" mbok aku yakin besoknya aku dimasukin pesantren dan dirukiyah. :| 

Balancing your own wish and answering people's expectation towards you is a challenge. People have a certain image about you. They expect you to think and behave as they wish. It's our choice to choose: whether to fulfil their expectation or to live in our way. Just remember that you have every single right in this world to be happy and feel happy about yourself. Also put in your mind that each person has their own value of happiness. I mentioned a lot about my own wish vs my family's expectation, but deep down inside, I know that I will do anything and everything to make they're happy and proud of me. It's just the way it is. They are THAT important. 

Satu lagi, jangan gampang berasumsi sama semua yang kamu baca atau dengar. Apalagi di social media. Apalagi kalau yang kamu baca adalah orang yang berpengalaman di branding dan marketing. Bukan berarti orang yang menikmati pekerjaannya itu gila kerja. Bukan berarti orang yang selalu posting foto anaknya itu ibu teladan. Bukan berarti yang posting foto jalan-jalan melulu itu berarti kerjanya cuma jalan-jalan. Cara terbaik mengenal seseorang adalah dengan bertemu dengannya dan berjabat tangan kemudian mengobrol langsung. Bukan dari potongan status atau pilihan lagu atau upload foto/meme. 

Ambil serutan di rumah Lili
Cukup sekian dan terimikisiiihhh 

Thursday, March 27, 2014

Back to the office: a civil cervant note about diyat money

Hi, everyone! I am home! 

Already started my activity in Jakarta for the last few weeks. I am now enjoying the adaptation process with my new boss and senior at office. I looooovvveee working by the way (it's so obvious, isn't it?). I like my 7 a.m. morning walk from home to bus halte and being picked up by bis jemputan kantor in front of BI. Love that little machine reading my vein and yelling 'Successful Verification' every morning and afternoon. Got a weird satisfaction when my boss (finally) signed the document that I'd draft-revised-edited-proof read-print-revised-print-revised-print for a whole day. And what I really like is the stream of new knowledges coming from all around the world on my desk. 

Despite of all the fun, there's always the not fun part. :p 

This job, this office, this proffesion (i'm here talking about civil cervant), requires a huge will and determination. The challenges are there. For those who read this blog and feeling like applying for this job, think again. It is not what it seems. Stop thinking about attending parties all the time, or travelling around the world for vacation. If you want to apply this job, only to travel abroad. Stop reading, find another job in travel agency. If you want to apply this job because it will give you dollars. Stop reading, build your own companies, make something to export and make profit from it. If you want to be part of this institution, the most important thing to prepare is your will to serve this country. I mean it. You can read my colleague's article about the challenging part of our job here


Photo of Indonesian migrant workers participating in Indonesian's government program for repatriate Indonesian overstayers di Saudi Arabia. October 2013. Taken by my colleague, Rahmat Kurniawan, who spent 8 weeks internship in Indonesian Consulate General Office in Jeddah.
Talking about serving this country, the priority of our job abroad is to protect and serve our citizen abroad, ESPECIALLY migrant workers. You probably read some news lately about an Indonesian celebrities whose campaign for diyat payment for Indonesian migrant worker in Saudi Arabia. My reaction when I read that articles last week? Sad. Why? Because I know how hard Kemlu, KJRI Jeddah and KBRI Riyadh work for our migrant workers in Saudi Arabia. Probably before she went for this campaign, she can enroll for a nice internship in Citizen Protection desk at Kemlu. It's just 10 minutes walk from Gambir train station. She doesn't have to fly to Jeddah or Riyadh to actually know the problem. I'm not gonna explain the case here since all of my writing in this media are personal statement and will not representing institution's opinion.

Personally, I think we must understand it this way, if you come to a foreign country to live and work over there, you have to respect their law. We implement Indonesian law in Indonesia, but if you come to another country, it's their law that will affect you, not ours. 

We all know, in Saudi Arabia, if you murder someone, you will get a death sentence (it's an eye for an eye law, remember?). That will not happen if the victim's family forgive you. For several cases, the family will forgive you IF you pay a certain amount of money (diyat money). The amount is unlimited. In the case of Satinah, it's 12,1 billion Rupiah. 12,1 billion Rupiah is enough to pay the salary of 4.000 elementary school teachers in Indonesia, or to build 40 decent house for newly weds, or to fund 24 new Indonesian PhDs in Europe. If the government pay, the money is from your pocket: it's tax money. 

This is just another point of view, from a civil cervant who actually feel sad if somebody tell bad things about her office without knowing the real issues. If you really care about millions of migrant workers abroad, please don't observe this from one part of the box. 

Thanks for reading. Good night :) 

Wednesday, February 12, 2014

(Tugas) Belajar di Negeri Kincir Angin: Culture & Weather Shock

Hello, again! :D  

Sebagaimana seperti yang saya ceritakan di post sebelumnya, ini adalah pertama kalinya, kaki saya menginjakkan benua Eropa. Pertama kali pula bagi saya merasakan musim dingin. Emang sih, menurut senior-senior di KBRI, kami beruntung karena Belanda sedang mengalami warm winter sekarang. Tapi tetep aja yah, kalau asal muasalnya anak pantai dan ndeso, buat saya berangkat sekolah dalam suhu 4 derajat celcius itu dingin banget. :s 

Beberapa pengalaman absurd saya di bawah ini semoga bisa memberikan gambaran dan tips buat teman-teman yang akan menuju Belanda atau menghadapi musim dingin. Cekidot!

1. Etiket Bertoilet Ria
Setiap toilet di Indonesia pasti selalu melarang kita untuk membuang apapun di dalamnya, baik itu tisue maupun benda lain (janin misalnya). Tidak demikian dengan toilet di sini. Di semua bilik, ada tulisan 'Please flush toilet paper into the toilet'. Jadi tisu yang habis kita pakai mesti diflush. Hehehe... Kalau itu dilakukan di Jakarta, udah pada mampet kali yak. Oia, nggak akan ada toilet shower dimanapun, jadi kalau harus berbasah ria, siapkan tissue basah. 

2. Air Keran
Air keran di Eropa bisa diminum. Dan rasanya enak (meskipun dibanding Perancis dan Belgia, air Belanda paling enak). Lebih enak daripada air akuwa. Jadi kalo kita mandi, berasa mandi pake akuwa (apasih). Yang menyebalkan adalah karena ini winter, jadi kalau keran air panasnya nggak berfungsi baik, kita akan mencuci tangan dengan.. air bersuhu 2 derajat celcius! Paling sedih kalau mesti nyuci piring. Soalnya habis itu pasti tangan saya seperti mati rasa. Berkat pengalaman ini, saya jadi paham kenapa orang-orang Barat menciptakan mesin pencuci piring. Pasti biar tangannya nggak beku kaya gini. :D 






3. Makan di Luar itu MAHAL. Sekali lagi... MAHAL. 
Di hari-hari pertama, saya sempet mampir makan di sebuah restoran cepat saji bernama Angkringan Pak Jenggot (kalau di Jogja, letaknya di depan mirota campus). Waktu itu, saya pesan satu paket burger, kentang dan coke. Dan... saya harus bayar 5,95 Euro untuk itu. Dengan kurs Rupiah terhadap Euro saat ini 16.500, berarti itu makanan harganya 98.175 IDR. *kemudian pingsan* Emang sih, waktu berangkat, orang rumah udah wanti-wanti "kalau makan, jangan dikonversi ke rupiah, nanti kamu nggak makan". Tapi tetep aja ya.. Yang namanya insting emak-emak, kesel juga makan fast food tapi mahal. :D



Akhirnya, saya beralih ke alternatif kedua: ke supermarket untuk membeli bahan makanan dan memasak. Di dorm, ada dapur yang disediakan untuk kami. Jadi kita bisa masak kapanpun kita mau (kalau nggak males). Supermarket paling heits se-Belanda itu namanya Albert Heijn (AH). Saking seringnya belanja, saya sampe punya Bonuskaart buat diskon. :D Saya sukaaa belanja di AH. Soalnya sayuran, buah, salmon, ayam dan telur berkualitas bagus. Oia. Di dekat Arendsdorp Dorm ada AH kecil. Tinggal jalan lurus dari halte JozepIsraelspein satu blok. Di situ juga jual beras kok. Tapi kalau mau nyari rice cooker jangan ke AH, kagak ada. 


Sejujurnya, penyelamat hidup saya yang paling utama adalah kawasan Chinatown di Centrum Den Haag. Hehe.. Di sana ada supermarket China dan supermarket Vietnam yang menjual produk-produk Indonesia. Dari makanan sejuta umat yaitu Indomie, hingga frozen durian dan bandeng presto Juwana. Kalau mau bikin kimbab atau sushi juga bisa. Bamboo roll ada, rumput laut ada, soy sauce ada. Kalau mau beli salmon untuk sashimi juga bisa beli di Lekker Eten (kios ikan). Hanya saja, saya belum berani makan sashimi di sini. Takut salmonnya bukan buat sashimi (if you know what I mean). Oh, tapi kalau kamu suka sashimi, mesti banget coba ikan hering ala Belanda. Rasanya agak lebih amis daripada salmon sashimi, tapi oke kok. 


4. SIM Card
Nggak seperti di Indonesia yang bisa beli SIM Card di mana saja, mencari SIM Card telepon di Belanda lumayan menantang. Meskipun kemudian kami tahu waktu itu susah nyari cuman karena nggak ngerti tempatnya aja. Hehehe.. Belinya di toko cellular atau toko handphone yang menjamur di Centrum. Letaknya di dekat halte bis 22/24 dan trem depan City Lens, gang sebelah Burger King. Bisa minta sekalian dipotongin kalau kartu yang kamu butuhkan nano. Kalo micro simcard, nggak perlu dipotongin, dalam kemasan starter pack, sim card yg tersedia bisa dimasukkan di regular dan micro slot. 
Ada berbagai provider telepon yang tersedia. T-mobile, vodavone, lebara, AH, dll dll. Saya pakai Lebara. Tidak lain dan tidak bukan karena... kalau telpon ke Indonesia murah. :D 30 detik 5 sen. Kalau pakai Lebara, cek pulsanya *100#. Nah, isi pulsa ni yang agak tricky. 1GB Data harganya 10 Euro. Tapi kita nggak bisa langsung isi pulsa biasa trus daftar paket internet kaya kalo pake provider Indonesia (atau Malaysia), kita mesti isi pulsa dengan paket internet khusus bernama Lebara One. 


5. Baju dan Sepatu
Kata temen bule eike, kunci berbaju saat winter adalah layering. More layer is better. Apalagi kalau nggak tahan dingin. Jadilah waktu awal banget di sini rasanya aku tenggelam dalam baju-bajuku sendiri. Mencet hape aja susah karena pake gloves, dan ketika gloves dilepas, jari-jari membeku. *sedih* Syal dan topi itu penting banget. Saya sering males pake topi karena rambutnya jadi lepek (nggak penting), tapi akibatnya kepala jadi dingin banget apalagi kalo ada angin berhembus. Jadi kalau kepala lagi panas, ini bisa jadi cara efektif untuk mendinginkan kepala. :D 
Sepatu yang baik adalah salah satu senjata lain dalam menghadapi winter. Sebaiknya model boots dan bahan kulit (intinya sebenernya menutup kaki, tahan air dan enak dipakai jalan). waktu mau beli sepatu, jangan lupa nyobanya pakai kaus kaki yang tebel, biar tau nyaman atau nggak dipakenya. Kadang kaus kaki tebal bisa nambah size 0,5 - 1 ukuran. 

6. Problematika Kulit dan Rambut
Musim dingin juga jadi kejutan tersendiri untuk kulit dan rambut karena jadi sangat kering. Setelah keramas, rambut harus segera disisir karena 10 menit kemudian akan kering dan nggak akan bisa diubah lagi arah poninya kemana (efek baiknya adalah hasil catokan tahan lama). Setelah mandi juga harus segera dioles lotion karena tidak lama kulit akan terasa kering sekali. Pada beberapa kasus bahkan kulit bisa jadi gatal dan merah-merah karena ini. Jadi kalau kulit kamu sensitif, siapkan lotion khusus. Ada lotion berbahan petroleum jelly yang jadi senjata utama kami (di pasaran ada 2 merk: vaseline dan nivea). Lotion ini bisa dipakai untuk badan maupun bibir, dan aman bagi kulit sensitif jadi hampir bisa dipakai siapa saja. 

7. Hello, goodbye, thank you
Secara umum, menurut saya, orang Belanda itu ramah dan baik sama orang Indonesia. Kamu bisa pakai bahasa inggris untuk ngobrol dan bertegur sapa dengan mereka. Atau syukur-syukur bisa dipraktekkan hasil kursus bahasa Belandanya (sebelum berangkat, kami ada kelas persiapan bahasa belanda tingkat dasar). Beberapa kali bahkan saya ketemu orang Belanda yang fasih berbahasa Indonesia. Pada dasarnya, orang Belanda itu terus terang banget. Kalau boleh dibilang boleh. Kalau nggak dibilang nggak. Alasannya kenapa pun dibilangin. Kapan itu saya beli souvenir berbahan keramik, dia nggak bisa ngasih bubble wrap ke souvenir yang kecil karena akan terlalu mahal buat dia. tapi yang souvenir besar dikasih bubble wrap (ini dijelasin ke saya sambil tangan-tangan tuanya membungkus souvenir keramik). Jangan ragu-ragu untuk tanya dan minta tolong kalau nggak ngerti. They will happily help you. Tapi tetep waspada juga. Nggak semua orang baik, ada juga orang jahat (semua orang pasti tahu cerita maraknya copet di Amsterdam atau kota wisata lain di Eropa). 

Semoga posting blog yang random ini bisa bermanfaat buat teman-teman semua. 

Meskipun diplomat, saya ini dari kampung, sekolah pun sejak TK sampe S2 semuanya produk asli dalam negeri, jadi ya harap maklum kalau masih mesti banyak belajar dan mencari pengalaman hidup. *halah* 

Perjalanan ke Belanda ini sebenernya yang kedua kalinya ke luar negeri dalam kerangka 'junior diplomat'. Yang pertama waktu magang di Penang, Malaysia. Waktu itu homesick banget. Padahal cuma sebulan pergi, dan itu pun cuma 30 menit kalau terbang ke Medan. Entah kenapa, perjalanan kali ini sudah nggak se-homesick itu. Mungkin karena sekolah yang menyenangkan, mungkin karena kota Den Haag yang tenang, mungkin karena warga Den Haag yang super ramah, atau mungkin juga karena saya yakin, kapanpun saya kembali ke Jakarta, akan selalu ada tempat untuk pulang. :) 

(Tugas) Belajar di Negeri Kincir Angin: Clingendael Institute

Satu bulan sudah berlalu dari 12 Januari 2014. Selama itu pula saya sudah meninggalkan Jakarta untuk mengikuti Diplomatic Training di Clingendael Institute, Den Haag, Belanda. Tadinya saya berencana menulis post tentang Clingendael ini lebih awal, tapi karena satu dan lain hal, baru sempet sekarang. :D

Program yang saya ikuti ini sebenarnya mirip dengan diklat Sekdilu dari kantor. Bedanya, training kali ini berbahasa Inggris, dosennya bule-bule, pelajaran kami point of view-nya dari dunia barat, dan gedung kuliah kami kaya Hogwarts. :D

Gedung kuliah kami di Clingendael Institute 
Program for Indonesian Junior Diplomat at Clingendael Institute adalah hasil MoU berumur 10 tahun antara Kemlu RI dan Kemlu Belanda (selanjutnya disebut Minbuza - Ministerie van Buitenlandse Zaken). Dari MoU itu ceritanya ada kerjasama capacity building untuk diplomat RI. Alhamdulillah, nama saya ada diantara 22 orang dari Sekdilu 37 yang berangkat ke Belanda tahun 2014.

Bersama koper-koper saya
waktu sampai di Schipol Airport, Amsterdam

Rasanya gimana? Excited! Ini pertama kalinya saya menginjak tanah Eropa, dan ke Belanda pula. Negara yang punya sejarah panjang dengan bangsa Indonesia. Tapi waktu itu sempet takut juga, soalnya kami datang di tengah-tengah winter. Saya tu nggak tahan dingin, ke Bromo 2x aja sakit melulu. Gimana harus bertahan di suhu (yang tahun lalu sampai) - 10'C? Tuhan memang baik, begitu sampai di Belanda, kami disambut dengan.. 'warm winter'. Suhu di sini berkisar 1 - 7 derajat Celcius. Yang sedih kalau angin sedang berhembus. Kalau lagi hujan + angin, lebih baik simpan saja payung kita, biar payungnya nggak rusak. Hehe.. 
Class Outfit - Winter Time! ^^
Background saya yang 'kurang HI' membuat saya merasa harus lebih banyak belajar untuk menunjang pekerjaan saya sehari-hari di Jakarta. Dan kursus di Belanda ini, semacam menjawab kebutuhan tersebut (halah). Sebenarnya sih kurikulumnya mirip dengan diklat Sekdilu. Ya belajar tentang WTO juga, ya belajar tentang EU juga, ya belajar tentang ASEAN juga. Bedanya, di sini belajar isu-isu tersebut dari point of view Eropa. Ekonominya lebih mengarah ke liberalisasi, isu environment lebih sering mengemuka, ada negara tertentu yang jadi antagonis melulu. :p Sesi-sesi favorit saya sebenarnya skill classes: negosiasi, presentasi, komunikasi, simulasi sidang. But on top of all, the best session of all is... tour and working visit session. Haha #namanyajuganak-anak 


Setiap hari saya pulang - pergi dari dorm ke sekolah naik bus. Sekolah memberi masing-masing dari kami sebuah kartu (OV-chipkaart namanya) buat naik bis. Kartu itu harus ditempelkan ke alat pendeteksi tiap naik dan turun bis. Kurang lebih sama seperti kartu Trans Jakarta. Karena kami dianggap pelajar, kartu ini nggak ada saldonya, jadi kalau kami naik-turun bis dan trem di seantero Den Haag, kami tidak perlu bayar. Hanya saja, kalau mau ke kota lain ya bayar sendiri.

Oia, gedung sekolah kami ada di tengah-tengah taman separuh hutan (Clingendael Langgoed). Ada kolam besar, ada lapangan bola, ada rumah bunga mungil, ada taman peri (beneran, tamannya mengingatkanku pada dunia Lord of The Rings) dan banyak sekali bebek dan angsa. Oh! Ada peternakan sapi juga di deket sekolah. Jadi kalau lagi iseng dan cuaca lagi bagus, kita bisa berjalan-jalan dan lihat-lihat taman.


Demikian post pertama saya. Meskipun agak nggak bermutu akibat dipaksakan biar mood nulis kembali lagi, tapi nggak papalah ya (maksa). :D

*ditulis demi menumbuhkan kemampuan writing untuk menyusun policy brief paper sebagai tugas akhir training di Clingendael.

Have a good day!


Monday, January 6, 2014

Selamat Datang di Kementerian Luar Negeri, Sekdilu 38. :)

Happy New Year 2014!
Saya tahu banget malam tahun baru kemarin ada yang dapat kado akhir tahun yang luar biasa. Pertama, selamat untuk PNS di 27 Kementerian dan Lembaga (termasuk Kemlu), yang resmi mendapatkan tunjangan kinerja. Semoga bisa menambah semangat kita untuk bekerja untuk kepentingan rakyat yaah.. ^^
Yang kedua, selamat untuk rekan-rekan yang telah diterima di Kementerian Luar Negeri dalam proses seleksi Tahun Anggaran 2013. Seru yak pengumumannya dirilis dalam detik-detik menjelang tahun baru di website Kemlu. Hehehe. Selamat sekali lagi!! Saya tahu banyak diantara teman-teman yang akhirnya mendapatkan profesi impiannya, menjadi diplomat. :)

Kepada 66 orang dari jalur umum dan 5 orang dari jalur khusus yang akan tergabung menjadi Sekdilu 38, selamat menjalani diklat Sekdilu. Selamat diklat juga untuk 57 orang calon PKKRT dan 13 orang PK yang bergabung di Kementerian Luar Negeri tahun ini. Sebagaimana beberapa kegiatan kami di tahun pertama yang saya tulis di blog ini, mungkin rekan-rekan semua juga akan mengalami hal yang sama, mungkin juga tidak. Saya dengar akan ada beberapa perbaikan kegiatan dan kurikulum, yang disesuaikan juga dengan aturan dari KemenPAN-RB. Pesan saya sih, nikmati saja proses diklatnya. Nikmati proses menjadi CPNS. Ingat, nggak ada kerja keras dan perjuangan yang sia-sia. :)

Ada beberapa yang mengirim email pada saya dan bertanya tentang banyak hal di Kemlu. Terima kasih emailnya ya.. Maaf kalau balesnya suka lama, tapi saya akan selalu berusaha bales email temen-temen semua. Ada yang kemarin tanya tentang sistem karier dan pengembangan SDM di Kemlu. Ini ada link ke majalah Kemlu: QuAS Edisi Desember 2013. Edisi khusus ini memang edisi galau karier-nya pegawai-pegawai Kemlu. Silakan dibaca. PS: Kalau linknya nggak kebuka, silakan buka website Kemlu dan download online magazinenya ya..

Untuk teman-teman yang belum diterima untuk masuk Kemlu tahun ini, jangan berputus asa. Mungkin malah ada jalan lain yang lebih pas untuk teman-teman di luar. Tetap Semangaattt!!


Love,


Ardhin

Monday, September 23, 2013

Wisuda Sekdilu XXXVII

Lima Puluh Sembilan Diplomat Baru Indonesia

Pagi ini (13/09/2013), telah berlangsung upacara penutupan diklat SEKDILU angkatan 37 di Gedung Pancasila, Jakarta. Acara ini dihadiri oleh Menteri Luar Negeri R.M. Marty M. Natalegawa, Kepala Pusdiklat Duta Besar Hazairin Pohan, Direktur SEKDILU Dr. Ben Perkasa Drajat, para pejabat eselon I dan II di lingkungan Kemlu, para duta besar senior, serta orang tua peserta diklat. Peserta diklat SEKDILU 37 sendiri merupakan hasil seleksi penerimaan CPNS Kementerian Luar Negeri 2012 untuk formasi Pejabat Diplomatik dan Konsuler (PDK). 

Selama kurang lebih delapan bulan, peserta dipersiapkan untuk memasuki dinamika dunia diplomatik. Selain bekal materi substansi dan ketrampilan teknis diplomatik, para peserta diklat juga mendapatkan kesempatan untuk berdiskusi langsung dengan mantan wakil presiden Jusuf Kalla, Gubernur DKI Joko Widodo, Mayor Inf. Agus Yudhoyono, mantan Menlu Hassan Wirajuda, Anies Baswedan serta tokoh nasional lain. Kapusdiklat dalam laporannya menyampaikan bahwa terjadi peningkatan kualitas lulusan diklat dibandingkan sebelumnya, “Nilai tertinggi pada diklat serupa tahun sebelumnya adalah 83,5 sedangkan pada SEKDILU 37 sebesar 86,31. Selain itu, lulusan dengan predikat Sangat Baik tahun ini 35 orang, sedangkan tahun lalu 20 orang”. Menurut Kapusdiklat, salah satu penentu peningkatan ini adalah adanya bimbingan dari 10 duta besar senior kepada SEKDILU 37. Dalam kesempatan ini, beliau menyampaikan rasa terima kasihnya kepada para duta besar senior yang telah meluangkan waktu untuk membina dan memberikan pengarahan kepada para diplomat muda.
 
Tonton - Ao' Deri - Cneki - Nyimas Adel - Oechi - Uclon
Kami berenam adalah Anak Bu Isye.
Ambassador Faisha Hasan (Bu Isye) adalah duta besar pembina kami.
Beliau yang membimbing kami secara langsung selama SEKDILU XXXVII.
Terima kasih banyak atas bimbingan, nasehat dan kasih sayang Ibu kepada kami.
We love you, Ibu! ^^

 
Lulusan terbaik SEKDILU 37 Raka T.D. Pamungkas, mewakili rekan-rekannya untuk mengucapkan pesan dan kesannya selama diklat di Senayan. Dengan santun, lulusan UPN Veteran Yogyakarta ini menyampaikan terima kasihnya kepada semua pihak yang membantu proses diklat. Sebagai tambahan, Raka juga menyampaikan kepada rekan-rekan seangkatannya, “Terima kasih, Teman-teman. Percayalah, (bertemu) kalian jauh lebih berharga jika dibandingkan dengan ilmu substansi yang saya peroleh di Sekdilu”. 

orang-orang yang dicintai Raka lebih dari substansi apapun :p (waktu buka bersama di rumah pak direktur)
Angkatan yang aktif, kreatif dan penuh inisiatif, demikianlah Kapusdiklat mendeskripsikan SEKDILU 37. Banyak hal baru yang dipersembahkan oleh mereka. Sebuah buku substansi berjudul “Refleksi Diplomasi Indonesia pada Abad ke-21” dan sebuah buku populer “(Calon) Diplomat punya Cerita: Meniti Mimpi ke (Kementerian) Luar Negeri” telah diserahkan kepada Menlu oleh wakil angkatan, Mashita Kamilia. Paduan Suara Gita Buana 37, besutan Rizka Pravitianasari, yang telah aktif mengisi berbagai acara Kemlu, juga berhasil memukau hadirin dengan alunan nada dalam lagu ‘Bagimu Negeri’ dan ‘Tanah Airku’. Di akhir acara, sebuah film dokumenter tentang rekrutmen Kemlu yang bersih dan transparan berjudul “Menjadi Diplomat” dinikmati oleh hadirin. 

Gita Buana 37 dalam lagu 'Indonesiaku'
di acara pembukaan Beasiswa Seni dan Budaya Indonesia
*hu'um, saya yg lagi mangap gede banget. *_*

Foto bareng Mas Leo Mokodompit (Leo Afi) dan Mbak Aisha Sudiarso.
di acara Pembukaan Kongres Diaspora Indonesia (19 Agustus 2013)
pakai baju daerah dari seluruh Indonesia!
di penutupan Kongres Diaspora Indonesia. Hari itu kami jadi semacam artis gitu deh..
Diajakin foto sama peserta kongres. 11-12 sama badut ancol. >_<  Bedanya kami bisa nyanyi. :p
Menteri Luar Negeri yang menutup diklat SEKDILU 37 menyebutkan tantangan diplomat saat ini akan jauh lebih besar, “Kondisi Indonesia, kawasan atau global pada saat saya lulus SEKDILU tahun 1986 tentu berbeda jauh antara dengan sekarang. Ananda perlu mempersiapkan diri dengan lebih baik terutama karena pada 2045, 100 tahun Indonesia, Andalah yang memimpin kementerian ini”. Sambil memandang deretan wajah bangga para orang tua dan keluarga dari SEKDILU 37, Menlu mengingatkan tentang peran besar orang tua dan keluarga dalam kesukesan mereka. “They sacrifice many things for you. You owe them a big debt”, tegasnya. Menlu juga menekankan bahwa seorang diplomat perlu mengedepankan pengabdian kepada negara. Seorang diplomat profesional harus memiliki mental yang kuat dalam menghadapi tekanan dan tantangan apapun. Beliau berkata, “Akan ada suatu masa dimana Ananda akan menjadi penentu keberhasilan atau kegagalan sebuah tugas. Untuk itu, perlu ada semangat bekerja tanpa pamrih demi tercapainya kepentingan nasional Indonesia”. Tanpa menutupi rasa bahagianya, Menlu menyampaikan selamat kepada lulusan diklat SEKDILU 37 yang telah resmi menjadi bagian dari Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia. Lima puluh sembilan orang yang berasal dari Aceh hingga Papua ini sudah sah untuk disebut sebagai diplomat Indonesia (DA).

========================================================================

Tulisan di atas dibuat untuk kepentingan publikasi kegiatan kami yang dimuat di website Kemlu dan website Pusdiklat Kemlu (dengan disunting oleh yang berhak menyunting. hehehe). 

Sama si pendamping wisuda
(bukan yg kanan. itu yg ada rodanya meriam)
Saya nggak bisa menambahkan apa-apa lagi. Nulis itu aja udah emosional banget. *hapus air mata*
Waktu nyanyi 'Tanah Airku' bareng Gita Buana 37, sempet out of tone pas vocalizing awal. T___T Gara-gara terharu sama pidato Menlu. Ya secara beliau menyapa orangtua-orangtua yang hadir, sedangkan orangtua saya nggak bisa hadir, trus jadi inget keluarga di Semarang trus jadi kangen trus jadi pengen nangis.... :( 

Anyway.. again, I wanna say thank you sooo much for my dear 'Pendamping Wisuda' yang menyempatkan kabur dari kantornya sehingga aku tidak sebatang kara. :D 


Dan.. sekalian aja lah ya... Aku mau share foto-foto jaman waktu masih diklat SEKDILU XXXVII

Birthday Cake 
 Ardhin ultah tanggal 9 Agustus 2013. kebetulan tahun ini bertepatan dengan hari ke-12 Lebaran. Nah.. begitu kembali ke Jakarta dan masuk kelas... taraaaaa.. ada kue enak banget menanti kami.

Kenapa ada banyak banget namanya?
Keluarga SEKDILU XXXVII yang ultah tanggal 9 Agustus emang rombongan. :D
Mbak Paulina Gupta (yg setahun di atasku), Chicha, sang sekretaris direktur yang cantik, lahir setahun setelah aku. Dan Raka, sang ranking satu, lahir dua tahun setelahku. Yay for 9th August!!! ^^






Selama diklat 8 bulan, aku nemu temen-temen absurd beranekaragam... Cekidot. :D

Ini namanya Jakik, sahabat eike. Insya Allah akan menjadi Menteri Luar Negeri di masa depan.
Ceritanya di puncak Gn Bromo (iye, ini cuma wajah orang aja)
(dan as usual, aku berpose absurd.. maap, itu dalam keadaan sakit. ga tahan dingin. hehe)



Me and my roommate, Oechi. Kami habis dapet buku dari Pak Denny Indrayana.
^___^

Pose absurd di kapal Dewaruci. x_X


Sama Vira, Teh Opi, dan Mada
di markas TNI AL Surabaya *puanas tenan, rek!

Sama Mbak Marisa, senior angkatan 34, yang mengajariku menjadi MRA profesional :p
waktu kami tugas di SOM APEC, Medan (Juli 2013)
 
Ewik, yang memberiku nama 'Cneki'
Yang menemaniku kesana kemari selama ini. :D

Demikianlah... Semoga tidak membuat kalian demam setelah melihat foto-foto ajaib kami. Hehehehe. :D

Sekdilu 37: Kelas Terakhir Kami

Haii.. Maaf maaf maaf lama sekali tidak posting di blog. Yep, benar dugaan Anda. Kegiatan Sekdilu sangat padat. Beberapa bulan terakhir kami berpetualang kemana-mana. Denpasar, Bandung, Bogor, Surabaya, Medan. Dan kegiatan kami pun penuh dari pagi hingga malam. Kelas diklat, paduan suara, nulis paper akhir (namanya taskap - kertas kerja perorangan, semacam skripsi/thesis gitu deh), kemudian disusul dengan segala keribetan wisuda dan persiapan magang. Hihihi.. Kami sudah wisuda lho. :D Well, gonna tell you later about our graduation.

Selama kami diklat di Sekdilu batch XXXVII, ada banyaaaakkk sekali tokoh yang sudah membagi ilmu dan pengalaman dengan kami. Dari mantan presiden Jusuf Kalla, Gubernur DKI Jokowi, Menteri Luar Negeri Marty Natalegawa, mantan menteri Luar Negeri Hassan Wirayuda, mantan ketua MK Mahfud MD, mantan jubir presiden Wimar Witoelar, Anies Baswedan, dan banyak lagi. Semuanya spesial dan memberikan inspirasi serta kesan bagi kami.

Di post kali ini, saya akan share tulisan yg saya buat untuk keperluan publikasi kegiatan kami di website Pusdiklat Kemlu. Kuliah ini merupakan kuliah terakhir kami sebagai Sekdilu XXXVII, dua hari sebelum kami diwisuda. Silakan.. :)


Sinergi Diplomat dan Tentara:
Diskusi Mayor Inf. Agus Harimurti Yudhoyono dengan Sekdilu XXXVII


Pagi ini (11/09/2013), Sekolah Dinas Luar Negeri Angkatan XXXVII mendapatkan kesempatan berharga untuk berdiskusi langsung dengan Mayor Inf. Agus Harimurti Yudhoyono. Dengan moderator Duta Besar Hazairin Pohan, kuliah berjudul “Millitary Leadership: Lesson Learned” berlangsung dengan interaktif dan menyenangkan. Perwira TNI penuh prestasi itu menceritakan pengalamannya dalam memimpin pasukan; Diantaranya, dalam Operasi Penjaga Perdamaian Kontingen Garuda XXIII-A saat terjadi perang 34 hari antara Israel dan Hezbullah di Lebanon pada 2006, serta Operasi Pemulihan Keamanan di Aceh tahun 2002. 

Slidenya keren banget lho... *pemerhati grafis*

Pengalaman selama bertugas di Aceh dan Lebanon memberikan banyak pelajaran berharga. Ketika berhadapan dengan Gerakan Aceh Merdeka (GAM), Mayor Agus paham bahwa akar permasalahan penyebab konflik perlu diketahui agar penyelesaian berhasil. Means (alat penyelesaian), ways (cara penyelesaian) dan ends (hasil akhir yang diinginkan) perlu dianalisis dengan tepat agar strategi penyelesaian konflik berhasil. Selama bertugas di Lebanon, Mayor Agus menyadari pentingnya rekalibrasi daya pikir bahwa peacekeeping tidak sama dengan warfighting. Sebagai bagian dari Pasukan PBB, prinsip neutrality and impartially perlu dijaga. “Kita tidak memihak Israel atau Hezbullah. Kita juga tidak boleh membedakan warga. Entah itu Yahudi, Islam Sunni, Islam Syiah atau apapun. Semuanya harus dilindungi.”, ungkap suami Annisa Pohan ini. 

Mayor Agus berkali-kali menekankan pentingnya sikap “win the heart and mind of local people”. Pasukan Garuda tidak segan bertukar salam dengan warga Lebanon. Dalam patroli rutin mereka, sesekali Mayor Agus dan rekan-rekan berhenti untuk menikmati kopi bersama warga. Mayor Agus percaya sikap ini dapat menentukan keselamatan nyawa prajurit di medan perang. Lulusan terbaik Akademi Militer tahun 2000 itu menekankan bahwa diplomat Indonesia juga perlu menerapkan sikap ini ketika bertugas di negara lain. 

Pada akhir kuliah yang terasa santai dan akrab, Dr. Ben Perkasa Drajat memandu sesi diskusi. Berbagai pertanyaan dilontarkan oleh para diplomat muda; pertanyaan mereka bervariasi dari isu keamanan, politik, keluarga hingga bentuk sinergi diplomat dan tentara. Menurut Mayor Agus, sinergi antara diplomat dan tentara sangat penting untuk menopang pelaksanaan tugas masing-masing. Sinergi ini perlu dilakukan sejak level taktis, tidak hanya pada level atas atau strategis saja. 

Tanpa meninggalkan senyum ramahnya, Mayor Agus berpesan supaya diplomat Indonesia senantiasa menanamkan positive mindset kepada Indonesia. “Jangan menjelek-jelekkan negara sendiri ketika membandingkan dengan negara lain.”, katanya. Mayor Agus menutup pertemuan ini dengan ucapan selamat dan sukses kepada Sekdilu XXXVII yang akan dilantik pada Jum’at, 13 September 2013 nanti. (DA)

Kyaaa!! Foto bareng kami diupload di twitter Mayor Agus. ^^ *numpang eksis*

 Yep.
Itu kelas terakhir kami. :(
Itu terakhir kalinya Ketua Angkatan kami, Fatimah Alatas, mengucapkan salam "Selamat Datang di SEKDILU XXXVII. Kami berjumlah 59 orang dan kami siap menerima pelajaran."

Semoga semua ilmu, diskusi dan pengalaman yang kami dapatkan selama diklat dan di kelas. Baik itu dari akademisi, dari dubes pembina kami, dari widyaiswara, dari tokoh-tokoh nasional maupun dari teman-teman kami sendiri, bisa memberi bekal bagi karier kami. Amin!